Kerasnya
batu karang memecah gulungan ombak, membawa serta pasir pantai dan serpihan-serpihan
kerang putih.Angin laut menyeka disela-sela rambut lurusku. Anak-anak pantai berlarian
dengan tawa lepas mereka. Kupandangi alam sekitar, tapi tak kutemukan sosok indah
yang kucari. Karena sosok itu baru saja pergi, meninggalkan bekas yang teramat jelas.
Rio
memilih untuk mengakhiri hubungan kami, karena saat ini ia telah pergi meninggalkan
Negara kepulauan ini. Setelah beberapa tahun kita menjalin hubungan, setelah ia
mengukir sejuta kenangan manis bersamaku dan setelah ia jadikan hari-hariku penuh
dengan tawa. Pagi tadi ia akhiri semuanya begitu saja, dengan alasan jarak dan waktu
yang membuat kita terpisah jauh.
Bukankah diluar sana ada banyak hubungan yang bertahan meski dibatasi waktu
dan jarak, bukankah cinta itu tidak mengenal seberapa dekat jarak dan seberapa waktu
yang bisa selalu kita lewati bersama-sama.
Kini
hanya aku yang berjalan sendiri, disepanjang jajaran pohon kelapa yang selalu
Nampak tegar saat angin kencang berusaha menumbangkan akar tangguhnya. Tak adalagi
yang membuat kulelah berlarian, tak ada lagi yang akan mengajakku untuk bermain
membelah laut dengan jet ski yang biasa terparkir dipinggir pantai. Kini hanya aku
seorang yang duduk dipondok pantai untuk menikmati segarnya air kelapa dengan gula
aren kesukaan kami. Kenangan-kenangan itu terperangkap dalam fikiranku, tanpa kutau apakah Rio pun sedang mengingat hal
yang sama denganku menjelang keberangkatannya.
Kecewa
yang kurasakan tidak akan sesakit ini jika ia hanya meninggalkan ragaku disini,
tapi nyatanya dia juga ikut meninggalkan cintaku. Mengubur cinta kami yang
telah tumbuh dengan harapan yang besar, harapan untuk bias saling mencintai sampai
waktu benar-benar telah cukup untuk kami berdua.
Tapi
akupun tidak sanggup mencegah kepergiannya, aku hanya berusaha berfikir jika inilah
pilihan yang terbaik untuknya dan untukku. Mungkin dia takut akan lebih mengecewakan
perasaanku lagi, dan takut menyiksaku jika aku terikat dalam kesepian nantinya.
Ia lebih merelakan untuk melepasaku sekarang, karna mungkin dia takkan pernah kembali
lagi untuk menemuiku. Dia akan menetap dinegara kelahiran ayahnya, negeri kincir
angin.
***
Satu
tahun sudah kulalui hari-hariku sendiri, tidak ada satupun pengganti yang bias menemani
hariku seperti Rio yang membuat hariku dipenuhi oleh warna-warni kehidupan. Namun
keajaiban kini berpihak kepadaku.
“Nadia,
nanti malam aku jemput jam 7 ya, aku rindu pantai dan cintaku.”
Laki-laki
itu tiba-tiba muncul dihadapanku, meski aku tak sempat menjawab pertanyaannya karena
harus segera menemui klien.Tapi aku tau benar dia siapa, laki-laki yang selama ini
mengakar didalam hatiku, yang selama ini selalu kutunggu kedatangannya ditepi pantai
bersama matahari saat ia akan tenggelam.
Aku
merasa sangat bahagia malam ini, semoga saja apa yang terjadi tadi siang bukan hanya
sekedar mimpi. Aku berusaha tampil secantik mungkin dengan gaun berwarna merah
maroon pemberian darinya saat ulang tahunku
yang ke 22. Suara klakson mobil yang sudah lama takku dengar membuatku segera bergegas
menuruni anak tangga dan membukakan pintu untuk melihat kedatangannya.
Aku
hampir tak percaya, saat ini ia sedang menuntunku menuju pantai. Kedua mataku ditutup
dengan kain, sepertinya Rio mempunyai kejutan besar untukku. Benar-benar malam
yang istimewa, dengan rapinya ia membuat tatanan lilin yang membentuk kata I
love you diatas pasir pantai. Dan ia sengaja menyiapkan hidangan kesukaanku dengan
dekorasi serba putih lengkap dengan mawar favoritku. Semuanya tampak semakin sempurna
dengan beberapa pemusik yang mulai mengalunkan lagu romantic favorit kami
berdua diiringi kecapi dan biolanya.
Sungguh
hari yang sangat kunantikan, sejak malam itu kami lebih sering menghabiskan waktu
berdua. Menikmati kesegaran es kelapa dengan manisnya gula aren, berlarian bersama
anak-anak pantai dan sesekali saling melempar air laut yang sangat asin jika tersentuh
lidah. Aku kembali mendapatkan senyumku, bahagiaku, dan cinta yang lama meninggalkanku.
Hingga
suatu sore dicafe yang sudah tak berpengunjung, aku sengaja ingin menyanyikannya
sebuah lagu untuknya dengan iringan gitar yang sudah lama aku persiapkan. Aku menaiki
panggung dan ia menyaksikanku layaknya pengunjung café yang kagum akan penampilanku.
Tapi laguku belum selesai, tiba-tiba ia menghilang dari hadapanku. Seperti saat
pertama tiba-tiba ia menyapaku setelah sekian lama takku jumpai dirinya. Tanpa aku
perintah air mataku mengalir deras menuruni lekuk-lekuk wajahku yang kini tampak
pucat.
Aku
terlalu besar berharap untuk dia ada disampingku saat ini, aku hampir gila dengan
imajinasi-imajinasiku yang menyiksa ahir-ahir ini.Dimulai dari siang itu, sebenarnya
tak ada satu orang pun yang menyapa dan berkata rindu akan cinta dan pantainya padaku.
Malam itu hanya ada aku sendiri menikmati alunan musik yang telah lama aku rindukan.
Hari-hariku pun masih sendiri, Meneguk air kelapa campuran gula aren seorang diri,
berlarian dengan anak-anak pantai dengan memasang senyum dan kebahagiaan palsu.
Semuanya
terjadi setelah siang yang aku imajinasikan dengan sapaannya yang fana, saat itu
aku baru saja kabur dari rumah sakit karna teringat dengan janjiku bersama klien
penting.Tapi akupun baru saja berusaha melupakan sebuah kejadian sebelum aku sendiri
dibawa lari kerumah sakit karna keadaanku yang tiba-tiba menurun drastis. Kejadian
yang benar-benar tak dapata kusangkal lagi saat ini. Beberapa jam sebelum aku menuju
rumah sakit, orang tua dari Rio dating menemuiku. Mereka menceritakan semua
yang tidak aku ketahui selama ini, Rio pergi bersama keluarganya karena ingin menyembuhkan
penyakit kanker darah yang dideritanya. Ia takut jika usahanya itu tetap tidak berhasil,
hingga ia tega memberiku alas an jarak dan waktu untuk memutuskan hubungan kita
berdua.
Namun
ketakutannya benar terjadi, dua hari yang lalu Rio pergi untuk selamanya.Tanpa memberiku
salam terahir, tanpa memberiku sebuah kejujuran dan tanpa mengucapkan kata
cinta terahir dari mulutnya. Semua ini begitu menyakitkan, tak sedikit kusalahkan
diriku sendiri yang tak bias membaca maksud sebenernya dari laki-laki yang
teramat aku cintai. Namun semua itu hanyalah tinggal sebingkai cerita manis,
kan kubawa cinta ini kemanapun aku pergi. Hingga waktu menyatukan kita kembali
di kekekalan kelak. Aku gadis pantai yang selalu menemanimu jika kau tampak diatas
sana, bersama jutaan bintang yang salut akan kesucian cintamu. Aku gadis pantai
yang menunggu akan runtuhnya jarak dan waktu untuk kembalinya kebersamaan kita,
dibatas tepi pantai.
By : Z

No comments:
Post a Comment