Monday, June 27, 2016

Batas di Tepi Pantai



Kerasnya batu karang memecah gulungan ombak, membawa serta pasir pantai dan serpihan-serpihan kerang putih.Angin laut menyeka disela-sela rambut lurusku. Anak-anak pantai berlarian dengan tawa lepas mereka. Kupandangi alam sekitar, tapi tak kutemukan sosok indah yang kucari. Karena sosok itu baru saja pergi, meninggalkan bekas yang teramat jelas.

Rio memilih untuk mengakhiri hubungan kami, karena saat ini ia telah pergi meninggalkan Negara kepulauan ini. Setelah beberapa tahun kita menjalin hubungan, setelah ia mengukir sejuta kenangan manis bersamaku dan setelah ia jadikan hari-hariku penuh dengan tawa. Pagi tadi ia akhiri semuanya begitu saja, dengan alasan jarak dan waktu yang membuat kita terpisah jauh.  Bukankah diluar sana ada banyak hubungan yang bertahan meski dibatasi waktu dan jarak, bukankah cinta itu tidak mengenal seberapa dekat jarak dan seberapa waktu yang bisa selalu kita lewati bersama-sama.

Kini hanya aku yang berjalan sendiri, disepanjang jajaran pohon kelapa yang selalu Nampak tegar saat angin kencang berusaha menumbangkan akar tangguhnya. Tak adalagi yang membuat kulelah berlarian, tak ada lagi yang akan mengajakku untuk bermain membelah laut dengan jet ski yang biasa terparkir dipinggir pantai. Kini hanya aku seorang yang duduk dipondok pantai untuk menikmati segarnya air kelapa dengan gula aren kesukaan kami. Kenangan-kenangan itu terperangkap dalam fikiranku,  tanpa kutau apakah Rio pun sedang mengingat hal yang sama denganku menjelang keberangkatannya.

Kecewa yang kurasakan tidak akan sesakit ini jika ia hanya meninggalkan ragaku disini, tapi nyatanya dia juga ikut meninggalkan cintaku. Mengubur cinta kami yang telah tumbuh dengan harapan yang besar, harapan untuk bias saling mencintai sampai waktu benar-benar telah cukup untuk kami berdua.
Tapi akupun tidak sanggup mencegah kepergiannya, aku hanya berusaha berfikir jika inilah pilihan yang terbaik untuknya dan untukku. Mungkin dia takut akan lebih mengecewakan perasaanku lagi, dan takut menyiksaku jika aku terikat dalam kesepian nantinya. Ia lebih merelakan untuk melepasaku sekarang, karna mungkin dia takkan pernah kembali lagi untuk menemuiku. Dia akan menetap dinegara kelahiran ayahnya, negeri kincir angin.
***

Satu tahun sudah kulalui hari-hariku sendiri, tidak ada satupun pengganti yang bias menemani hariku seperti Rio yang membuat hariku dipenuhi oleh warna-warni kehidupan. Namun keajaiban kini berpihak kepadaku.
“Nadia, nanti malam aku jemput jam 7 ya, aku rindu pantai dan cintaku.”
Laki-laki itu tiba-tiba muncul dihadapanku, meski aku tak sempat menjawab pertanyaannya karena harus segera menemui klien.Tapi aku tau benar dia siapa, laki-laki yang selama ini mengakar didalam hatiku, yang selama ini selalu kutunggu kedatangannya ditepi pantai bersama matahari saat ia akan tenggelam.

Aku merasa sangat bahagia malam ini, semoga saja apa yang terjadi tadi siang bukan hanya sekedar mimpi. Aku berusaha tampil secantik mungkin dengan gaun berwarna merah maroon  pemberian darinya saat ulang tahunku yang ke 22. Suara klakson mobil yang sudah lama takku dengar membuatku segera bergegas menuruni anak tangga dan membukakan pintu untuk melihat kedatangannya.

Aku hampir tak percaya, saat ini ia sedang menuntunku menuju pantai. Kedua mataku ditutup dengan kain, sepertinya Rio mempunyai kejutan besar untukku. Benar-benar malam yang istimewa, dengan rapinya ia membuat tatanan lilin yang membentuk kata I love you diatas pasir pantai. Dan ia sengaja menyiapkan hidangan kesukaanku dengan dekorasi serba putih lengkap dengan mawar favoritku. Semuanya tampak semakin sempurna dengan beberapa pemusik yang mulai mengalunkan lagu romantic favorit kami berdua diiringi kecapi dan biolanya.

Sungguh hari yang sangat kunantikan, sejak malam itu kami lebih sering menghabiskan waktu berdua. Menikmati kesegaran es kelapa dengan manisnya gula aren, berlarian bersama anak-anak pantai dan sesekali saling melempar air laut yang sangat asin jika tersentuh lidah. Aku kembali mendapatkan senyumku, bahagiaku, dan cinta yang lama meninggalkanku.

Hingga suatu sore dicafe yang sudah tak berpengunjung, aku sengaja ingin menyanyikannya sebuah lagu untuknya dengan iringan gitar yang sudah lama aku persiapkan. Aku menaiki panggung dan ia menyaksikanku layaknya pengunjung café yang kagum akan penampilanku. Tapi laguku belum selesai, tiba-tiba ia menghilang dari hadapanku. Seperti saat pertama tiba-tiba ia menyapaku setelah sekian lama takku jumpai dirinya. Tanpa aku perintah air mataku mengalir deras menuruni lekuk-lekuk wajahku yang kini tampak pucat.

Aku terlalu besar berharap untuk dia ada disampingku saat ini, aku hampir gila dengan imajinasi-imajinasiku yang menyiksa ahir-ahir ini.Dimulai dari siang itu, sebenarnya tak ada satu orang pun yang menyapa dan berkata rindu akan cinta dan pantainya padaku. Malam itu hanya ada aku sendiri menikmati alunan musik yang telah lama aku rindukan. Hari-hariku pun masih sendiri, Meneguk air kelapa campuran gula aren seorang diri, berlarian dengan anak-anak pantai dengan memasang senyum dan kebahagiaan palsu.

Semuanya terjadi setelah siang yang aku imajinasikan dengan sapaannya yang fana, saat itu aku baru saja kabur dari rumah sakit karna teringat dengan janjiku bersama klien penting.Tapi akupun baru saja berusaha melupakan sebuah kejadian sebelum aku sendiri dibawa lari kerumah sakit karna keadaanku yang tiba-tiba menurun drastis. Kejadian yang benar-benar tak dapata kusangkal lagi saat ini. Beberapa jam sebelum aku menuju rumah sakit, orang tua dari Rio dating menemuiku. Mereka menceritakan semua yang tidak aku ketahui selama ini, Rio pergi bersama keluarganya karena ingin menyembuhkan penyakit kanker darah yang dideritanya. Ia takut jika usahanya itu tetap tidak berhasil, hingga ia tega memberiku alas an jarak dan waktu untuk memutuskan hubungan kita berdua.

Namun ketakutannya benar terjadi, dua hari yang lalu Rio pergi untuk selamanya.Tanpa memberiku salam terahir, tanpa memberiku sebuah kejujuran dan tanpa mengucapkan kata cinta terahir dari mulutnya. Semua ini begitu menyakitkan, tak sedikit kusalahkan diriku sendiri yang tak bias membaca maksud sebenernya dari laki-laki yang teramat aku cintai. Namun semua itu hanyalah tinggal sebingkai cerita manis, kan kubawa cinta ini kemanapun aku pergi. Hingga waktu menyatukan kita kembali di kekekalan kelak. Aku gadis pantai yang selalu menemanimu jika kau tampak diatas sana, bersama jutaan bintang yang salut akan kesucian cintamu. Aku gadis pantai yang menunggu akan runtuhnya jarak dan waktu untuk kembalinya kebersamaan kita, dibatas tepi pantai.


By : Z


No comments:

Post a Comment