Sore hari dalam tatapan senja, sinar jingga yang
mencuat dari balik helai daun jati, membias ke rumput yang mulai keriput. Jajaran semut merah tak luput dari
keajaiban ronanya. Seorang gadis
terlihat duduk di pelataran rumah dengan bunga anyelir
yang tumbuh dimana-mana, namun tetap tertata rapi. Ia menatap dua burung gereja yang bermain diatas kerikil.
Saling mencicit, seperti sedang bahagia diatas kelabunya. Lalu beralih pada semut-semut
merah yang bergotong royong membawa bangkai kupu-kupu,merekapun dirasai sedang
menertawakan kelam harinya. Fikirannya melayang ke tiga tahun silam. Saat dimana gadis yang bernama Remay
tersebut, untuk pertama kalinya mengurai air mata karena seorang lelaki yang selain
keluarganya.
“Selamat pagi May”, sapa seorang lelaki berambut lurus,
dengan kumis tipis serta senyum lebar yang menggambarkan karakter penuh
semangat. “Pagi Dho, tumben dateng lebih pagi” balasku dengan senyum ringan.
Ridho, laki-laki yang dikenal dengan sifat supel dan kerja kerasnya. Meski
prestasi dalam akademiknya tidak begitu gemilang, tapi Ridho tidak seperti
siswa lain yang hanya menerima kenyataan bahwa memang secukup itulah
kemampuannya. Dengan semangatnya Ridho selalu gigih mengukir sedikit demi
sedikit prestasi yang mampu dicapainya. Tapi, tetap tak sampai menyaingi
prestasi dari Remay, yang dikenal sebagai salah satu siswi dengan prestasi
tinggi di sekolahnya.
“May, kamu mau kan bantu aku memahami BAB ini, susah
sekali may untuk kupelajari sendiri”, timpal Ridho sambil menunjukkan salah
satu BAB di buku Matematika yang memang dinilai paling sulit oleh siswa
kebanyakan. “Mmm..bisa, semampuku yaa. Tapi gak sekarang, jadwalku piket ni” jawab
May sambil terus berjalan menuju kelas yang terletak paling ujung dilorong yang
beralaskan keramik putih. “Oke, istirahat nanti aku tunggu dikantin ya” senyum
Ridho menjelaskan permintaannya.
“Cieee ehm” sepintas terdengar celetukan teman satu kelas
Ridho yang seolah meledek obrolan kedua insan tersebut. Tapi entah sejak kapan
senyum ringan yang tersimpul di bibir May tak kunjung luput meski telah jauh
meninggalkan teman mengobrolnya pagi ini. Ada perasaan aneh yang menyelinap dihati May, seperti
senang namun sedikit takut. Baru pertama kalinya May merasakan perasaan aneh yang tak
terdefinisikan. Padahal ia sudah berkali-kali bertemu dengan sosok laki-laki
itu. Mungkin waktu yang perlahan menunjukkan bahwa May diam-diam mulai memuji,
mengagumi, lalu kemudian memiliki rasa yang aneh setiap dekat maupun setiap
mengingat sosok laki-laki tersebut. Tanpa May sadari, ia
mulai lupa dengan kabut yang selama ini menyelimutinya. “Selamat pagi cantiik !”, suara yang tak
asing mengagetkan May dan segera meluputkan senyum ringan yang terus
mengembang di wajah mungil May. “Ya ampun Dewi, kebiasaan
ni ya kalo ada maunya aja ngelemparin rayuan dangkal” gerutu May yang mengerti
gelagat sahabatnya tersebut. Dewi adalah salah satu dari dua sahabat Remay, satunya
lagi bernama Ayu. Tiga sahabat yang begitu dekat, kemanapun mereka pergi, tak
pernah ada yang hilang satu bagianpun dari kesatuan tersebut. Itulah keluarga
kecil mereka, seperti keluarga kedua. Tempat yang nyaman untuk saling
berbagi,mengadu, bermain, belajar, dan segala hal yang membuat mereka semakin
sulit untuk terpisahkan. “Hehe, maaf si. PR Matematika pasti udah selesai kan,
semalem gue capek banget abis ngurusin acara ibu-ibu tu, biasa”. “Yaudah ni,
besok mau alesan apa lagi ? sunatan adek loe ?” Remay menyerahkan buku A5 yang
tersampul rapi dengan kertas coklat. “Yaampun May, tega banget, adek gue kan
cewek, alesan lain lah. Haha”. Dewi selalu punya banyak alasan untuk tidak
mengerjakan PR, apalagi Matematika. Dengan materi yang sulit ditambah guru yang
lumayan killer, semakin membuat beberapa siswa enggan untuk menyelesaikan pekerjaan
rumah tersebut. Tidak lain dengan Ayu, “Remaaay !, hampir aja gue telat, PR
mana PR ?”, dengan wajah paniknya tanpa basa basi Ayu langsung duduk disebelah
Dewi dan ikut menyalin tugas dari buku May. May hanya menarik nafas maklum
dengan tingkah laku kedua sahabatnya tersebut.
“Aduh gila ngantuk banget gue dengerin sejarah yang gak
pernah berubah”. Ayu beranjak dari tempat duduk dan merenggangkan tangannya
yang kesemutan karena digunakan sebagai bantal. “Eh gue ke kantin duluan ya,
ada urusan nih” Remay buru-buru membereskan bukunya dan beranjak menuju kantin
sekolah. “Kenapa tu anak, kekantin aja jarang sekarang malah buru-buru”. Dewi
dan Ayu menatap May kebingungan.
Pandangan
May menyapu seluruh sudut kantin, belum juga ia menemukan apa yang dicari. Tak
lama kemudian, seseorang menepuk bahu May dari belakang. “Hai May, nyariin aku
yaa ? “. Refleks May menoleh dan tersenyum pada orang tersebut.”Eh, yaa gitu
deh, kan kamu sendiri yang minta janjian disini”. Ridho langsung mengajak Remay duduk di kursi yang
tersisa. Maypun memulai diskusi dari BAB ke BAB hingga keduanya mulai bosan.
“May, makasih ya udah mau bantuin aku”. Ucap Ridho sembari menyuguhkan minuman
yang baru saja dibelinya untuk May. “Sama-sama, aku juga seneng kok bisa
bantuin kamu”. Balas May dengan senyum ramahnya, agak lama May menatap wajah
laki-laki didepannya tersebut. May mengagumi raut yang menyiratkan kedewasaan
yang bijak, meski sedikit cerewet jika didepan teman-temannya selain May.
Selain May ? ya, entah mengapa laki-laki tersebut seolah selalu menjaga
imagenya jika sedang berhadapan dengan Remay. “Hey ! kenapa menatapku seperti
itu, ada yang aneh ?” gertak Ridho sembari melambaikan telapak tangannya
didepan wajah gadis berambut ikal tersebut. “Ehh, eng..gak ada kok”, balas May
dengan wajah yang bersemu merah. “Yasudah kalau gitu, bentar lagi bel masuk
kelas”. “Mmm iya, oke aku duluan ya”, May segera beranjak dari tempat duduknya,
dan
segera meninggalkan kantin. “May..”
Ridho menyeru membuat May berbalik menatap Ridho. “Kapan-kapan, bisa luangkan waktumu
untuk mengajariku lagi ?”. May hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Ayo May, Dewi , keburu tutup nih toko bukunya”. Ayu
mengomeli teman-temannya yang tak segera bergegas. “Hi May, m..mau pulang bareng
aku gak ?”. Ajak Ridho tiba-tiba. Ayu dan Dewi saling memandang, seolah
mengerti apa yang harus mereka lakukan. “mm..tapi aku har..” Dewi segera
memotong jawaban Remay, “Ayu bisa ditemenin sama gue aja kok, mendingan May
pulang duluan aja sama Ridho”.
“Mm..kok Ridho tumben mau nganter May pulang ?”. May
melontarkan pertanyaan demi memecah keheningan antara mereka. “Gak papa,a..aku
baru tau kalau rumah kita ternyata searah”. Nampak nada grogi dari pria yang membawa
Remay dengan motor ninja berwarna merah tua. Mereka lebih banyak menghabiskan
waktu untuk berdiam sepanjang jalan, rasa canggung mematikan sifat cerewet
Ridho dan keramahan Remay.
Pagi ini ada pertandingan futsal antar sekolah, Remay
bersemangat karena ada Ridho yang ikut bermain bersama tim dari sekolah mereka.
“May liat, Ridho ngeliatin kamu” ujar Ayu sembari mengajak May untuk duduk
disebelahnya. “Apaan sih yu, disini gak cuma ada aku
kali”. Jawab May yang sepertinya
berlawanan dengan pendapat dari hatinya. Pandangan May tak lepas dari Ridho
yang saat itu mengenakan jersey berwarna orange yang senada dengan sepatunya dan handband merah dilengan sebagai tanda bahwa ia adalah kapten dari
tim tersebut. Masing-masing tim sedang bersiap, masih ada waktu beberapa menit
sebelum pertandingan dimulai. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang
menarik tangan May dan membawanya keluar dari kursi penonton. “Ikut aku
sebentar” kata laki-laki yang tak dikenal oleh May tersebut. ”H..hey, lepas !”,
bentak May setelah lelaki itu berhenti melangkah. May sama sekali tak
mengenalnya, laki-laki berkulit putih dengan mata sipit dan rambut lurus
berponi, tinggi May hanya sebatas bahu laki-laki tersebut. Tapi ada yang May kenal, seragam yang
dikenakan oleh laki-laki itu adalah milik sekolah yang saat ini menjadi lawan
pertandingan untuk sekolah May. “Siapa kamu ? tidak sopan, menarikku seolah aku
ini..”. “May, maafkan aku” omelan May terhenti oleh suara lembut yang berasal
dari laki-laki tersebut. May terhenyak karna namanya disebut, ‘siapa laki-laki
ini, mengapa dia mengenaliku’. “Jadilah pacarku May” tanpa basa-basi, laki-laki
ini menyatakan perasannya pada May. “Apaa ?, mengenalimu saja tidak, bagaimana
mungkin aku..” May menatap mata itu dengan tegas, cahaya sendu
dari kedua bola laki-laki itu merasuk menuju palung hati May. Entah bagaimana
ada butiran bening yang tiba-tiba terjatuh dari pelupuk May. Membuat tangan May
yang masih berada dalam genggaman tangan laki-laki itu menjadi kian gemetar.
Sedetik, dua detik, kedua pasang bola mata yang sama-sama memancarkan masa lalu dengan segenap
kesedihannya kini semakin pilu. Teriakan-teriakan supporter futsal hilang,
lenyap menjadi sunyi yang mengiris jiwa.
***
Tiga
tahun yang lalu, May adalah seorang siswi SMP yang cerdas, dengan segenap
prestasi yang diwakilkan oleh sederet piala yang tertata rapih dibalik lemari
kaca milik kedua orang tuanya. Tak cuma cerdas, tentu saja May adalah seorang
perempuan yang cantik. Cantik parasnya, cantik pula akhlaqnya. Dimana banyak
lawan jenis yang terkagum-kagum akan keberadaannya. Namun May masih belia,
usianya baru 13 tahun saat duduk dikelas dua. Sedikitpun May tidak pernah
memikirkan tentang cinta monyet yang mudah saja ia dapatkan. Namun pemikiran itu
berubah, ketika seorang siswa baru yang duduk dibangku sebelah May melempar
senyum yang membuat hati siapa saja yang melihatnya leleh bak lilin termakan
api.
Saat
itu adalah pertama kalinya May dekat
dengan seorang laki-laki, May mulai asyik mengobrol, membicarakan dunia luar
yang belum bisa mereka temui. Roy namanya, May mendapat banyak pengalaman dari
cerita-cerita Roy yang memang kerap berpindah-pindah tempat tinggal karena
pekerjaan Ayahnya. Kini May lebih sering menghabiskan waktu di sekolah dengan
Roy dibanding dengan teman-teman wanitanya. Teman laki-laki May pun tak sedikit
yang memandang sinis kepada Roy perkara cemburu monyet.
“May,
aku ingin tetap ada disini. Disebelah kamu, bercerita banyak tentang dunia,
tentang hidup, tentang apa yang selalu dilakukan oleh orang dewasa.” Roy
tersenyum kepada May yang sedang duduk disebelahnya, sembari menikmati
pemandangan bunga anyelir yang terhampar bak lembaran kain besar berwarna
putih. “Lakukanlah Roy, tetaplah disini dan jangan pergi. Karna meskipun kamu
pergi aku akan datang lagi ketempat ini untuk menunggumu” Remay membalas senyum
dan menatap mata Roy dengan tulus. Angin dari bukit menyibak jajaran bunga
anyelir yang menangkap terik cahaya matahari. May duduk dengan nyaman bersama
Roy dibawah pohon beringin yang tumbuh besar bak payung melindungi mereka dari
panasnya sang jingga. Menikmati bukit anyelir, May bahagia mengenal Roy, yang
membawa ribuan anyelir singgah di hatinya. “May, maukah kau berjanji padaku
satu hal ?”, Roy menatap May serius. “Tentu, apa itu Roy ?”. “Berjanjilah
padaku jika kita dewasa nanti kau akan bersedia menjadi pacarku dan menemaniku
untuk waktu yang sangat lama”. Roy mengangkat kelingkingnya. “Baiklah, aku
berjanji Roy jika kaupun begitu” May mengaitkan kelingkingnya di kelingking
Roy, dan siang itupun mereka membuat sebuah janji, yang akan segera mereka
tepati.
***
May
masih menatap mata laki-laki yang ada didepannya saat ini, laki-laki itu
membawa May keluar lapangan, menuju parkiran. Tanpa sepatah katapun May
membonceng motor laki-laki yang akan membawanya ke suatu tempat. “Disini May,
kita membuat janji dan disinilah akan kita tepati janji itu”. Laki-laki itu
kembali menggemgam tangan May seolah tak ingin lagi berpisah dengan gadis
pujaannya itu. “Roy..” Setelah sekian lama May tidak menyebut nama itu, ia
sebut nama Roy ditempat yang sama dengan keadaan yang berbeda.”kamu datang
terlalu lama. Aku bahkan sudah melupakan janji yang kita buat, setelah kamu
pergi entah kemana meninggalkan ku tanpa pesan. Kamu memang sempat membuat aku
menunggu seperti yang aku janjikan. Tapi aku sadar itu seharusnya tidak aku
lakukan ketika kamu pergi tanpa ucapan selamat selamat tinggal.” Di wajah mulus
May mengalir air mata yang selama tiga tahun berusaha May tahan. “May maafkan
aku. Aku pergi bukan tanpa alasan. Aku pergi tanpa sempat memberitahumu bahkan
ucapan selamat tinggal, itu karena...” Roy terdiam sejenak, menghela napas panjang.
“Ibuku meninggal satu bulan yang lalu, semua berawal di malam setelah kita
membuat janji dibukit ini. Malam itu ibuku jatuh pingsan, tanpa kita tahu
penyebabnya. Aku dan ayah membawanya ke rumah sakit terdekat, hingga kita
mendapat kabar yang amat mengejutkan.” Mata Roy mulai berkaca-kaca “Ibuku
mengindap leukemia, tanpa memberitahu siapapun. Hingga sakitnya bertambah parah
pada saat itu, dokter menyarankan agar kami membanya ke singapura untuk
pengobatan lebih lanjut. Tanpa berpikir lagi, malam itu juga kami pergi dari
sini. Itulah sebabnya bahkan mengucapkan selamat tinggalpun aku tidak punya
waktu May. Lama kami tinggal disana dengan pengobatan ibu yang terus berlanjut.
Hingga akhirnya, ibu menyerah.” Cairan bening mulai membasahi mata Roy. “Sudah
Roy, aku mengerti semuanya sekarang” Kali ini May balik meggenggam tangan Roy,
berusaha menenangkan. “Aku kembali untukmu May, aku berharap kamu mau memaafkan
setelah apa yang kuperbuat.” Roy beranjak memetik satu anyelir “Aku tau kamu
tidak pernah melupakanku May, anyelir-anyelir dipelataran rumahmu pasti selalu
berbicara tentangku. Sengaja kau tanam untuk terus mengingat kisah kita bukan ?
aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku sayang dalam hidup ini May, jadi
mulai sekarang, aku berjanji tak akan pergi meninggalkanmu lagi May. Maafkanlah
aku.” Roy memberikan sebatang anyelir itu kepada May. “Aku tidak pernah
membencimu Roy, itulah yang membuatku sakit selama ini. Apa yang telah kamu
lakukan, aku tidak pernah membencinya. Aku justru merindukanmu Roy.” May
tertunduk memandangi anyelir ditangannya. “Aku sangat menyesal May, maafkan
aku” Roy memeluk wanita yang amat ia sayangi. Dan tanpa mereka sadari, ada
seseorang yang menyaksikan kebahagian mereka dibalik pohon beringin lainnya.
-------o-------
By : Z

No comments:
Post a Comment