Monday, June 27, 2016

Janji di Bukit Anyelir


Sore hari dalam tatapan senja, sinar jingga yang mencuat dari balik helai daun jati, membias ke rumput yang mulai keriput. Jajaran semut merah tak luput dari keajaiban ronanya. Seorang  gadis terlihat duduk di pelataran rumah dengan bunga anyelir yang tumbuh dimana-mana, namun tetap tertata rapi. Ia menatap dua burung gereja yang bermain diatas kerikil. Saling mencicit, seperti sedang bahagia diatas kelabunya. Lalu beralih pada semut-semut merah yang bergotong royong membawa bangkai kupu-kupu,merekapun dirasai sedang menertawakan kelam harinya. Fikirannya melayang ke tiga tahun silam. Saat dimana gadis yang bernama Remay tersebut, untuk pertama kalinya mengurai air mata karena seorang lelaki yang selain keluarganya.
“Selamat pagi May”, sapa seorang lelaki berambut lurus, dengan kumis tipis serta senyum lebar yang menggambarkan karakter penuh semangat. “Pagi Dho, tumben dateng lebih pagi” balasku dengan senyum ringan. Ridho, laki-laki yang dikenal dengan sifat supel dan kerja kerasnya. Meski prestasi dalam akademiknya tidak begitu gemilang, tapi Ridho tidak seperti siswa lain yang hanya menerima kenyataan bahwa memang secukup itulah kemampuannya. Dengan semangatnya Ridho selalu gigih mengukir sedikit demi sedikit prestasi yang mampu dicapainya. Tapi, tetap tak sampai menyaingi prestasi dari Remay, yang dikenal sebagai salah satu siswi dengan prestasi tinggi di sekolahnya. 
“May, kamu mau kan bantu aku memahami BAB ini, susah sekali may untuk kupelajari sendiri”, timpal Ridho sambil menunjukkan salah satu BAB di buku Matematika yang memang dinilai paling sulit oleh siswa kebanyakan. “Mmm..bisa, semampuku yaa. Tapi gak sekarang, jadwalku piket ni” jawab May sambil terus berjalan menuju kelas yang terletak paling ujung dilorong yang beralaskan keramik putih. “Oke, istirahat nanti aku tunggu dikantin ya” senyum Ridho menjelaskan permintaannya.
“Cieee ehm” sepintas terdengar celetukan teman satu kelas Ridho yang seolah meledek obrolan kedua insan tersebut. Tapi entah sejak kapan senyum ringan yang tersimpul di bibir May tak kunjung luput meski telah jauh meninggalkan teman mengobrolnya pagi ini. Ada perasaan aneh yang menyelinap dihati May, seperti senang namun sedikit takut. Baru pertama  kalinya May merasakan perasaan aneh yang tak terdefinisikan. Padahal ia sudah berkali-kali bertemu dengan sosok laki-laki itu. Mungkin waktu yang perlahan menunjukkan bahwa May diam-diam mulai memuji, mengagumi, lalu kemudian memiliki rasa yang aneh setiap dekat maupun setiap mengingat sosok laki-laki tersebut. Tanpa May sadari, ia mulai lupa dengan kabut yang selama ini menyelimutinya. “Selamat pagi cantiik !”, suara yang tak asing mengagetkan May dan segera meluputkan senyum ringan yang terus mengembang di wajah mungil May. “Ya ampun Dewi, kebiasaan ni ya kalo ada maunya aja ngelemparin rayuan dangkal” gerutu May yang mengerti gelagat sahabatnya tersebut. Dewi adalah salah satu dari dua sahabat Remay, satunya lagi bernama Ayu. Tiga sahabat yang begitu dekat, kemanapun mereka pergi, tak pernah ada yang hilang satu bagianpun dari kesatuan tersebut. Itulah keluarga kecil mereka, seperti keluarga kedua. Tempat yang nyaman untuk saling berbagi,mengadu, bermain, belajar, dan segala hal yang membuat mereka semakin sulit untuk terpisahkan. “Hehe, maaf si. PR Matematika pasti udah selesai kan, semalem gue capek banget abis ngurusin acara ibu-ibu tu, biasa”. “Yaudah ni, besok mau alesan apa lagi ? sunatan adek loe ?” Remay menyerahkan buku A5 yang tersampul rapi dengan kertas coklat. “Yaampun May, tega banget, adek gue kan cewek, alesan lain lah. Haha”. Dewi selalu punya banyak alasan untuk tidak mengerjakan PR, apalagi Matematika. Dengan materi yang sulit ditambah guru yang lumayan killer, semakin membuat beberapa siswa enggan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tersebut. Tidak lain dengan Ayu, “Remaaay !, hampir aja gue telat, PR mana PR ?”, dengan wajah paniknya tanpa basa basi Ayu langsung duduk disebelah Dewi dan ikut menyalin tugas dari buku May. May hanya menarik nafas maklum dengan tingkah laku kedua sahabatnya tersebut.
“Aduh gila ngantuk banget gue dengerin sejarah yang gak pernah berubah”. Ayu beranjak dari tempat duduk dan merenggangkan tangannya yang kesemutan karena digunakan sebagai bantal. “Eh gue ke kantin duluan ya, ada urusan nih” Remay buru-buru membereskan bukunya dan beranjak menuju kantin sekolah. “Kenapa tu anak, kekantin aja jarang sekarang malah buru-buru”. Dewi dan Ayu menatap May kebingungan.
            Pandangan May menyapu seluruh sudut kantin, belum juga ia menemukan apa yang dicari. Tak lama kemudian, seseorang menepuk bahu May dari belakang. “Hai May, nyariin aku yaa ? “. Refleks May menoleh dan tersenyum pada orang tersebut.”Eh, yaa gitu deh, kan kamu sendiri yang minta janjian disini”.  Ridho langsung mengajak Remay duduk di kursi yang tersisa. Maypun memulai diskusi dari BAB ke BAB hingga keduanya mulai bosan. “May, makasih ya udah mau bantuin aku”. Ucap Ridho sembari menyuguhkan minuman yang baru saja dibelinya untuk May. “Sama-sama, aku juga seneng kok bisa bantuin kamu”. Balas May dengan senyum ramahnya, agak lama May menatap wajah laki-laki didepannya tersebut. May mengagumi raut yang menyiratkan kedewasaan yang bijak, meski sedikit cerewet jika didepan teman-temannya selain May. Selain May ? ya, entah mengapa laki-laki tersebut seolah selalu menjaga imagenya jika sedang berhadapan dengan Remay. “Hey ! kenapa menatapku seperti itu, ada yang aneh ?” gertak Ridho sembari melambaikan telapak tangannya didepan wajah gadis berambut ikal tersebut. “Ehh, eng..gak ada kok”, balas May dengan wajah yang bersemu merah. “Yasudah kalau gitu, bentar lagi bel masuk kelas”. “Mmm iya, oke aku duluan ya”, May segera beranjak dari tempat duduknya, dan segera meninggalkan kantin. “May..” Ridho menyeru membuat May berbalik menatap Ridho. “Kapan-kapan, bisa luangkan waktumu untuk mengajariku lagi ?”. May hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Ayo May, Dewi , keburu tutup nih toko bukunya”. Ayu mengomeli teman-temannya yang tak segera bergegas. “Hi May, m..mau pulang bareng aku gak ?”. Ajak Ridho tiba-tiba. Ayu dan Dewi saling memandang, seolah mengerti apa yang harus mereka lakukan. “mm..tapi aku har..” Dewi segera memotong jawaban Remay, “Ayu bisa ditemenin sama gue aja kok, mendingan May pulang duluan aja sama Ridho”.
“Mm..kok Ridho tumben mau nganter May pulang ?”. May melontarkan pertanyaan demi memecah keheningan antara mereka. “Gak papa,a..aku baru tau kalau rumah kita ternyata searah”. Nampak nada grogi dari pria yang membawa Remay dengan motor ninja berwarna merah tua. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam sepanjang jalan, rasa canggung mematikan sifat cerewet Ridho dan keramahan Remay.
Pagi ini ada pertandingan futsal antar sekolah, Remay bersemangat karena ada Ridho yang ikut bermain bersama tim dari sekolah mereka. “May liat, Ridho ngeliatin kamu” ujar Ayu sembari mengajak May untuk duduk disebelahnya. “Apaan sih yu, disini gak cuma ada aku kali”. Jawab May yang sepertinya berlawanan dengan pendapat dari hatinya. Pandangan May tak lepas dari Ridho yang saat itu mengenakan jersey berwarna orange  yang senada dengan sepatunya dan handband merah dilengan sebagai tanda bahwa ia adalah kapten dari tim tersebut. Masing-masing tim sedang bersiap, masih ada waktu beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menarik tangan May dan membawanya keluar dari kursi penonton. “Ikut aku sebentar” kata laki-laki yang tak dikenal oleh May tersebut. ”H..hey, lepas !”, bentak May setelah lelaki itu berhenti melangkah. May sama sekali tak mengenalnya, laki-laki berkulit putih dengan mata sipit dan rambut lurus berponi, tinggi May hanya sebatas bahu laki-laki tersebut. Tapi ada yang May kenal, seragam yang dikenakan oleh laki-laki itu adalah milik sekolah yang saat ini menjadi lawan pertandingan untuk sekolah May. “Siapa kamu ? tidak sopan, menarikku seolah aku ini..”. “May, maafkan aku” omelan May terhenti oleh suara lembut yang berasal dari laki-laki tersebut. May terhenyak karna namanya disebut, ‘siapa laki-laki ini, mengapa dia mengenaliku’. “Jadilah pacarku May” tanpa basa-basi, laki-laki ini menyatakan perasannya pada May. “Apaa ?, mengenalimu saja tidak, bagaimana mungkin aku..” May menatap mata itu dengan tegas, cahaya sendu dari kedua bola laki-laki itu merasuk menuju palung hati May. Entah bagaimana ada butiran bening yang tiba-tiba terjatuh dari pelupuk May. Membuat tangan May yang masih berada dalam genggaman tangan laki-laki itu menjadi kian gemetar. Sedetik, dua detik, kedua pasang bola mata yang sama-sama  memancarkan masa lalu dengan segenap kesedihannya kini semakin pilu. Teriakan-teriakan supporter futsal hilang, lenyap menjadi sunyi yang mengiris jiwa.
***
Tiga tahun yang lalu, May adalah seorang siswi SMP yang cerdas, dengan segenap prestasi yang diwakilkan oleh sederet piala yang tertata rapih dibalik lemari kaca milik kedua orang tuanya. Tak cuma cerdas, tentu saja May adalah seorang perempuan yang cantik. Cantik parasnya, cantik pula akhlaqnya. Dimana banyak lawan jenis yang terkagum-kagum akan keberadaannya. Namun May masih belia, usianya baru 13 tahun saat duduk dikelas dua. Sedikitpun May tidak pernah memikirkan tentang cinta monyet yang mudah saja ia dapatkan. Namun pemikiran itu berubah, ketika seorang siswa baru yang duduk dibangku sebelah May melempar senyum yang membuat hati siapa saja yang melihatnya leleh bak lilin termakan api.
Saat itu adalah  pertama kalinya May dekat dengan seorang laki-laki, May mulai asyik mengobrol, membicarakan dunia luar yang belum bisa mereka temui. Roy namanya, May mendapat banyak pengalaman dari cerita-cerita Roy yang memang kerap berpindah-pindah tempat tinggal karena pekerjaan Ayahnya. Kini May lebih sering menghabiskan waktu di sekolah dengan Roy dibanding dengan teman-teman wanitanya. Teman laki-laki May pun tak sedikit yang memandang sinis kepada Roy perkara cemburu monyet.
“May, aku ingin tetap ada disini. Disebelah kamu, bercerita banyak tentang dunia, tentang hidup, tentang apa yang selalu dilakukan oleh orang dewasa.” Roy tersenyum kepada May yang sedang duduk disebelahnya, sembari menikmati pemandangan bunga anyelir yang terhampar bak lembaran kain besar berwarna putih. “Lakukanlah Roy, tetaplah disini dan jangan pergi. Karna meskipun kamu pergi aku akan datang lagi ketempat ini untuk menunggumu” Remay membalas senyum dan menatap mata Roy dengan tulus. Angin dari bukit menyibak jajaran bunga anyelir yang menangkap terik cahaya matahari. May duduk dengan nyaman bersama Roy dibawah pohon beringin yang tumbuh besar bak payung melindungi mereka dari panasnya sang jingga. Menikmati bukit anyelir, May bahagia mengenal Roy, yang membawa ribuan anyelir singgah di hatinya. “May, maukah kau berjanji padaku satu hal ?”, Roy menatap May serius. “Tentu, apa itu Roy ?”. “Berjanjilah padaku jika kita dewasa nanti kau akan bersedia menjadi pacarku dan menemaniku untuk waktu yang sangat lama”. Roy mengangkat kelingkingnya. “Baiklah, aku berjanji Roy jika kaupun begitu” May mengaitkan kelingkingnya di kelingking Roy, dan siang itupun mereka membuat sebuah janji, yang akan segera mereka tepati.
***
May masih menatap mata laki-laki yang ada didepannya saat ini, laki-laki itu membawa May keluar lapangan, menuju parkiran. Tanpa sepatah katapun May membonceng motor laki-laki yang akan membawanya ke suatu tempat. “Disini May, kita membuat janji dan disinilah akan kita tepati janji itu”. Laki-laki itu kembali menggemgam tangan May seolah tak ingin lagi berpisah dengan gadis pujaannya itu. “Roy..” Setelah sekian lama May tidak menyebut nama itu, ia sebut nama Roy ditempat yang sama dengan keadaan yang berbeda.”kamu datang terlalu lama. Aku bahkan sudah melupakan janji yang kita buat, setelah kamu pergi entah kemana meninggalkan ku tanpa pesan. Kamu memang sempat membuat aku menunggu seperti yang aku janjikan. Tapi aku sadar itu seharusnya tidak aku lakukan ketika kamu pergi tanpa ucapan selamat selamat tinggal.” Di wajah mulus May mengalir air mata yang selama tiga tahun berusaha May tahan. “May maafkan aku. Aku pergi bukan tanpa alasan. Aku pergi tanpa sempat memberitahumu bahkan ucapan selamat tinggal, itu karena...” Roy terdiam sejenak, menghela napas panjang. “Ibuku meninggal satu bulan yang lalu, semua berawal di malam setelah kita membuat janji dibukit ini. Malam itu ibuku jatuh pingsan, tanpa kita tahu penyebabnya. Aku dan ayah membawanya ke rumah sakit terdekat, hingga kita mendapat kabar yang amat mengejutkan.” Mata Roy mulai berkaca-kaca “Ibuku mengindap leukemia, tanpa memberitahu siapapun. Hingga sakitnya bertambah parah pada saat itu, dokter menyarankan agar kami membanya ke singapura untuk pengobatan lebih lanjut. Tanpa berpikir lagi, malam itu juga kami pergi dari sini. Itulah sebabnya bahkan mengucapkan selamat tinggalpun aku tidak punya waktu May. Lama kami tinggal disana dengan pengobatan ibu yang terus berlanjut. Hingga akhirnya, ibu menyerah.” Cairan bening mulai membasahi mata Roy. “Sudah Roy, aku mengerti semuanya sekarang” Kali ini May balik meggenggam tangan Roy, berusaha menenangkan. “Aku kembali untukmu May, aku berharap kamu mau memaafkan setelah apa yang kuperbuat.” Roy beranjak memetik satu anyelir “Aku tau kamu tidak pernah melupakanku May, anyelir-anyelir dipelataran rumahmu pasti selalu berbicara tentangku. Sengaja kau tanam untuk terus mengingat kisah kita bukan ? aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang aku sayang dalam hidup ini May, jadi mulai sekarang, aku berjanji tak akan pergi meninggalkanmu lagi May. Maafkanlah aku.” Roy memberikan sebatang anyelir itu kepada May. “Aku tidak pernah membencimu Roy, itulah yang membuatku sakit selama ini. Apa yang telah kamu lakukan, aku tidak pernah membencinya. Aku justru merindukanmu Roy.” May tertunduk memandangi anyelir ditangannya. “Aku sangat menyesal May, maafkan aku” Roy memeluk wanita yang amat ia sayangi. Dan tanpa mereka sadari, ada seseorang yang menyaksikan kebahagian mereka dibalik pohon beringin lainnya.
-------o-------
                                                                                                            By : Z

No comments:

Post a Comment